21/04/2016
Lima Pelajaran Seorang Pekerja dari MACET..
Lima deretan huruf di akhir judul coretan kali ini sungguh menjadi lawan sekaligus teman setia perjalanan menuju tempat kerja bahkan saat p**ang menuju rumah tercinta. Ya.. jalanan sepanjang Serang – Cikande demikian akrab dengan kemacetan di berbagai titik. Bila dari Ciruas, bisa dijumpai mulai dari Pasar Kalodran – Pasar Ciruas – Pabrik Woojin – Perempatan Sentul – Pasar Kragilan – Jembatan Kragilan – Perempatan Selikur – Terowongan Tambak – Pasar Tambak – Kawasan Nikomas – Pertigaan Gorda – Pabrik Pongwan atawa ParkLand – hingga ngos-ngosan tiba di Kawasan Industri Modern lanjut Kawasan Industri Pancatama tempat pabrikku berada. Yang jelas harus sabar dan penuh perhitungan (meski sering meleset) untuk hari-hari tertentu yang menjadi hari pasar di beberapa titik yang diawali dengan kata “pasar” yang kusebutkan di atas.
Kenapa jadi lawan? Jelas d**g.. apalagi jika bangun kesiangan atau dinas luar yang melewati titik-titik di atas. Alhasil harus berjibaku melewati tanjakan di Ondar-Andir menyusuri sisi tol, melipir di Selikur sampai Kibin dan keluar di sekitar pabrik Timas, atau masuk Cijeruk untuk lewat pasar Tambak dari belakang atau justru bablas terus melewati area pembuangan limbah yang tembus kawasan Modern. Akhirnya jarak tempuh normal yang bisa dicapai setengah sampai seperempat jam bisa molor sampai dua hingga tiga jam.. alamaaaak. Saat-saat itulah ketahanan selama 2,5 tahun di pabrik diuji dengan sangat (godaan untuk pindah pabrik maksudnya).
Nah.. kapan d**g menjadi kawan? Pertama, saat kantuk melanda karena berangkat subuh atau p**ang terlalu larut dari pabrik. Apalagi sekarang single fighter saat isteri tercinta memutuskan (setelah konferensi karpet hijau) untuk berhenti kerja. Biasanya saat boncengan tidak terasa tuh yang namanya macet.. Hehhehe.. Kedua, dari macet banyak sekali pelajaran yang bisa kupetik. Haiyaaah.. belajar kok dari macet, belajar apa bro..
Satu : Kekompakan (meski negatif)
Macet di jalanan Serang – Jakarta ini ada berbagai penyebabnya.. Diawali dari ketidakpatuhan dan ketidaksabaran pengemudi baik pemotor atau sopir angkot. Tak jarang kedua jenis pengemudi tersebut memenuhi badan jalan yang kosong sehingga bertumbukan dengan pengemudi dari arah yang sama sehingga langsung BLUB! Macet total sepanjang detik berganti jam.. Penyebab berikutnya adalah ulah oknum angkot yang kompak untuk membuat situasi macet dengan ngetem sembarangan, berhenti sembarangan, kencing sembarangan (pengemudinya), hingga ada yang bahu membahu menciptakan kemacetan. Ini yang aku sebut KOMPAK.. dimana beberapa angkot kosong akan berputar arah sehingga menghalangi pengemudi lain yang mengakibatkan terpancingnya hasrat untuk mengambil badan jalan yang berlawanan arah. Ujungnya ya pasti MACET!
Dan karena berasaskan sesama pengemudi angkot, maka dengan sesukanya meminta penumpang turun, lalu si penumpang berjalan kaki berpindah angkot, jalan sebentar si angkot eeeh macet lagi, turun lagi dan pindah angkot demi mengejar waktu agar sampai di pabrik sebelum bel tanda mulai kerja berbunyi. Siapa penumpang itu? Ya para BURUH.. yang dengan bermandi peluh dan keringat turun ke jalan meminta kenaikan upah, eeeh.. upah yang naik sebagai PENYESUAIAN (catat!) atas kenaikan barang-barang di sekitar mereka itupun dirampok oleh para pengemudi angkot karena mereka harus berulang kali bayar angkot. Beuh! Ini yang perlu didemo gaes.. gak Cuma demo ke kantor pemerintah aja.. Lama-lama demo angkot to angkot aja deh.. (kayak door to door getchu).. KOMPAK yang kebangetan.. setidaknya pelajaran di sini adalah bagaimana untuk kompak dalam senasib sepenanggungan meski aplikasinya salah kaprah bin kampret.
Dua : Jika Tidak Waspada.. Maka Tidak Semua Niat Baik Berujung Kebaikan
Sering ada pameo bahwa dengan berbuat baik maka akan beroleh kebaikan. Ternyata tidak selamanya benar, buktinya ya di bumi Serang ini. Bagaimana tidak? Melihat kapasitas jalan yang tidak seimbang dengan penggunanya, pemerintah Serang kemudian melebarkan jalan. Niatnya baik nan mulia.. namun karena kurangnya edukasi dan sosialisasi serta ketegasan oleh aparatur pemerintah maka.. jalanan yang sudah luas malah menjadi lapak jualan baru bagi sebagian pelaku pasar kaget. Nggak GRATIS p**a karena juga dipungut bayaran oleh oknum tertentu. Hasilnya justru niat baik untuk memperlancar lalu lintas malah menambah peliknya kemacetan karena di sisi kanan kiri jalan sudah duduk manis para penjual dagangan mulai dari jagung, kelapa, pisang, ketela, pete, jengkol, dan lain sebagainya. Berani senggol? Antara Bayar atau Bacok deh kayaknya.. So, hati-hati saat berniat dan berbuat baik, belum tentu akan berujung kebaikan (jadi inget kisah kepompong yang disobek agar si kupu bisa keluar lebih cepat.. hasilnya kepakan sayap si kupu-kupu pun letoy..)
Tiga : Belajar Strategi dan Pengorbanan
Hemh.. ini agak ironis, karena dengan mempelajari tren macet maka kita bisa mengasah strategi dalam menghindarinya. Meski kadang perlu berangkat lebih pagi (strategi menyerang), agak siang dengan tarikan gas kendaraan lebih kencang (strategi ball possesion), atau p**ang larut tanpa ada lembur (defence strategy). Namun harus siap berkorban pastinya jika strategi itu melempem di jalanan karena berbagai hal mulai dari pecah ban, sedikit kecelakaan, atau hujan menyapa tiba-tiba (pengalaman ini bro). Tetapi yang jelas otak para pekerja yang terjebak macet akan lebih bekerja meski kadang digunakan untuk berbohong jika akhirnya terlambat masuk kerja (yang ini juga pengalamanmu kan? Iyaa.. kamuuu.. )
Lima deretan huruf di akhir judul coretan kali ini sungguh menjadi lawan sekaligus teman setia perjalanan menuju tempat kerja bahkan saat p**ang menuju rumah tercinta. Ya.. jalanan sepanjang Serang…