13/12/2018
"Copas dari group sebelah"
Kasus penumpukan barang di cargo Soetta memang menarik untuk dianalisa....
Pertama : Sungguh sangat aneh dalam posisi "Peak Season" sekarang ini operator penerbangan justru mengurangi scedule penerbangan yg ini jadi anomali....biasanya justru ada extra flight ? What happen ini ?
Kedua, setelah tarif kargo dinaikkan berulang-ulang sampai menyentuh level harga 90% kenaikan kenapa bukannya mereka mengimbangi dengan menambah scedule nya tapi justru mengurangi.
Ketiga, untuk yg jadi agen dari penerbangan setelah digebuk dg kenaikan tarif SMU skrg ditambah beban pengurangan "komisi agen" dari semula 7% menjadi tinggal 3% (GA akan eff. berlaku per 15 Des'18).
Sepertinya operator sedang "kelaparan income" dan berusaha mengeruk sebanyak banyaknya income dari SMU dg cara memeras keringat para pengguna jasanya sebanyak banyaknya.
Dugaan saya....gerakan ini tidak akan berhenti dalam waktu dekat dan masih alan berlanjut untuk waktu yg cukup lama. Caranya adalah sekarang mereka sengaja reduced "number of flight" untuk menciptakan ketergantungan shipper dlm teori "supply and demand".....kalau supply rendah maka demand akan naik dan pada saatnya ketika shipper dihadapkan pada tidak adanya alternative pilihan....maka kita akan seperti "kabau dicucuk"....berapapun harganya harus kita beli dan betapapun pahitnya harus kita telan. Itu sebabnya nampak sekali para PolicyMaker dan Policy Holder Penerbangan seperti tutup mata dan telinga....seolah-olah tidak ada masalah dilapangan dan mereka anteng2 saja...sungguh terlalu....
Ini yang harus diteriakkan ke publik karena ini juga berdampak ke harga tiket pesawat nantinya bukan hanya SMU...mudah2 media massa mainstream masih netral dalam mengangkat berita2 publik...tidak terpengaruh pemilik medianya.....waallahua'lam....ππΌππΌ
(Kontemplasi sore hari)