06/08/2015
“Berani hidup tak takut mati
Takut mati jangan hidup
Takut hidup mati saja
Hidup sekali
Hiduplah yang berarti”
KH.Ahmad Sahal
(Pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo)
Rp. 78.000,- termasuk ongkos kirim Jabodetabek
Mantap, simple banget ya? Sederhana tapi dalam sekali maknanya. Benar-benar meningkatkan mood boosterku pagi ini. Yup kalimat diatas adalah kalimat yang aku baca dari sebuah buku berjudul Menapaki Kaki-Kaki langit, sebuah biografi tentang Husnan Bey Fananie.
Siapa dia? Gak tau ya?sama...hahaha...dengar saja baru sekarang namanya. Mungkin karena aku juga bukan orang yang update. Tapi kalau para santri di seluruh penjuru Indonesia pasti tau. Hmmm, beliau adalah cucu dari salah satu pendiri Gontor yaitu KH. R. Zainuddin Fananie
Salah satu hobiku adalah membaca biografi orang sukses. Entah kenapa ketika membacanya. Serasa semangat keberhasilan mereka menjalari tubuhku, rasa keoptimisan mereka bahwa mereka bisa membuat perubahan kearah yang lebih baik itu seperti mengalir dalam darahku. Ciee..lebay amat ya. Tapi benar loh. Coba saja kamu baca salah satu biografi orang sukses, siapa saja. Mulai dari yang kamu idolakan saja. Pasti kamu ikut terbawa arus keberhasilan mereka dan membayangkan akan bisa seperti mereka juga.
Oke back to this book.
Awal membaca buku ini, aku seperti berada di dalam lingkungan pesantren. Penuh rasa persahabatan, keceriaan, keilmuan dan tentu saja kedisiplinan yang tinggi. Yang menarik dari seorang Husnan Bey Fananie ini adalah kegigihannya dalam menerapkan Fi Ayyi Ardhin Tatho wa anta masulun ‘an Islamiha.(Di bumi manapun anda berada , anda memberikan kontribusi dan menjadi pemimpin terhadap kemajuan Islam di dalamnya)
Dimanapun ia berada, keIslamannya terlihat. Ia bangga menjadi santri ketika bersekolah si negara-negaralima benua. Ketika banyak teman-temannya yang santri juga berusaha menyembunyikan kesantriannya, tapi tidak begitu dengan pak Husnan ini.
Walaupun ia anak seorang kyai besar, ia juga seorang yang prihatin. Sikap ini terlihat ketika ia harus menjual lukisan demi memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.
Perjalanan hidupnya terangkum baik dalam buku ini, walaupun aku rasa masih terlihat cukup mulus lah. Karena tidak banyak terlihat kesulitan yang dihadapinya diceritakan dalam buku ini. Mungkin karena doa dari banyak orang untuk kemashlahatannya salah satu faktor pendukung kelancaran hidupnya.
Namun ada satu yang cukup menarik disini, yang aku juga baru tahu, bahwa gereja di Belanda bisa disewa. Penyewaannya adalah untuk acara Maulid. Menurutku itu terobosan yang luar biasa, sungguh pemikiran out of the box. Pertamanya teman-temannya yang tergabung dalam PMEE terheran-heran dengan idenya. Tapi Ide yang diberikan pak Husnan tidak hanya keinginan semata namun juga ia benar-benar mengetahui aturan peribadatan di Belanda seperti apa. Pemerintah Belanda mengizinkan untuk melakukan acara peribadatan selama itu dilakukan di tempat ibadah. That’s it, nothing else. Nah jadilah mereka memberanikan diri menyewa Grote Kerk (Gereja Agung) di DenHaag.
Bayangkan. Dari speaker gereja terdengar sholawatan serta pengajian. Gak usah orang kristen, orang Islam saja pasti bingung. Hahaha....menurutku ini keren. Alhamdulilah acara berjalan lancar, umat muslim berbagai etnis dari daerah sekitar Den Haag berdatangan satu demi satu.
Ada pula sebutan beliau tentang bencana sesungguhnya bagi umat Islam adalah bencana yang terjadi di belahan dunia yang mayoritas muslim, peradaban Islam dihancurkan. Negara-negara yang dikenal memiliki basis kekuatan norma dan nilai Islam yang kuat, diserang, dihabisi dan dibumihanguskan dengan segala cara. Bencana ini disebut “Tsunami Peradaban”
Kalau paragraf di atas penghancuran Islam sebagai sebuah negara, seperti genoside. “Tsunami Peradaban”pun terjadi di bangsa muslim selepasnya. Mereka dibiarkan beridentitas sebagai muslim namun sikap dan perilaku mereka jauh dari Islam.
Perhatiannya pada keluarga, lingkungan, bangsa dan negara sungguh tidak diragukan lagi. Berbagai kiprahnya selama ini terangkum dalam baik pada buku ini. Pemikirannya tidak mudah terbawa oleh kenikmatan dunia dan tawaran menarik lainnya. Ia tetap bersiteguh pada prinsipnya, prinsip yang diawalinya dari perkataan KH. Zainuddin Fananie “Kita mesti bergerak, geraknya gerak maju, maju berlomba-lomba ke arah ketinggian, kegembiraan, kesentosaan Islam dan pemeluknya. Mesti bergerak kata kita, karena memang semata-mata wajib menjunjung tinggi perintah Tuhan Robbul Izzati”
Ya! Seorang santri, seorang pemimpin kepemudaan, seorang politikus, seorang...seorang...lainnya dengan berbagai kebaikan dipundaknya. Robbul Izzati adalah tujuan utamanya.
Fi Ayyi Ardhin Tatho wa anta masulun ‘an Islamiha.Tampaknya benar-benar ia terapkan, karena dimanapun ia berada, ia berkeyakinan harus membuat kemashlahatan bagi sekitarnya.
Semoga Allah kerap mempertemukannya dengan orang-orang baik yang selalu bergerak menuju kebaikan dalam bingkai keIslaman yang kuat.
Bagus! Untuk dibaca ;)